Mengapa ‘Spider-Man: Brand New Day’ Adalah Salah Satu Film Terbaik Sepanjang Masa (Termasuk Spoiler) OPINI PAKAR OLEH JUSTIN BARISO
Menonton Spider-Man: Brand New Day di bioskop bersama sang putra ternyata memberikan pengalaman sinematik yang jauh di luar ekspektasi bagi Justin Bariso, seorang pakar kecerdasan emosional sekaligus penulis. Sebagai salah satu penggemar waralaba manusia laba-laba, ia menyadari bahwa karya Marvel kali ini memiliki kedalaman emosi yang sangat spesial.
Setelah pemutaran film selesai, sang anak menanyakan kesan ayahnya terhadap film tersebut. Dengan senyum kepuasan yang tidak bisa disembunyikan, ia memberikan jawaban yang sangat meyakinkan: "One of the best movies I’ve ever seen."
Pernyataan apresiatif tersebut berbanding lurus dengan pencapaian komersialnya. Pada akhir pekan perdananya, Brand New Day sukses menggeser takhta Avengers: Endgame sebagai pemegang rekor debut domestik terbesar setelah berhasil meraup pendapatan luar biasa sebesar $360 juta di wilayah Amerika Serikat dan Kanada.
Selain laris manis di pasaran, film ini juga diakui secara kualitas penulisan naskah. Mengutip data penilaian dari Rotten Tomatoes, karya sutradara Destin Daniel Cretton ini mendapat apresiasi gemilang dengan skor kritikus di angka 90% dan tingkat kepuasan audiens yang menembus 98%. Fakta ini membuktikan bahwa film pahlawan super mampu mengawinkan aksi hiburan dengan resonansi psikologis yang dalam.
Peringatan bagi warganet: Ulasan di bawah ini mengandung spoiler tingkat tinggi terkait plot cerita film Brand New Day.
Keunggulan Plot dan Pengembangan Karakter
Sebuah penceritaan visual akan mencapai titik maksimalnya jika mampu membuat penonton peduli secara personal terhadap karakternya. Kunci utama kehebatan film ini terletak pada eksplorasi batin Peter Parker (Tom Holland) yang dibangun dari film-film sebelumnya.
Penonton sudah memiliki investasi batin yang kuat dengan sosok Peter, mantan kekasihnya M.J. (Zendaya), hingga sahabat sejatinya Ned (Jacob Batalon). Ikatan emosional ini bahkan dipertajam dengan mengeksploitasi figur Aunt May (Marisa Tomei) yang ternyata tetap mengambil porsi peran sangat krusial meskipun karakternya telah diceritakan meninggal dunia.
[SPOILER]
Di sisi lain, sutradara tidak melupakan porsi pengembangan karakter pendukung. Latar belakang kelam dari mutan Jean Grey (Sadie Sink) digambarkan dengan perlahan namun sangat menyayat hati. Kita juga bisa melihat penampilan Jon Bernthal sebagai Frank Castle / The Punisher yang terasa sangat kompleks, berpadu sempurna dengan kehadiran efektif Bruce Banner / Hulk (Mark Ruffalo) di tengah durasi layar yang terbatas.
Keberanian tim produksi untuk merajut deretan karakter ikonis lainnya layak diacungi jempol, meliputi:
- The Scorpion
- Frank Castle / The Punisher
- The Hulk
- Jean Grey
- Yelena Belova / Black Widow
- The Hand
- Satu entitas penjahat utama lainnya
Eksekusi Ritme Bercerita yang Sempurna
Menjaga tempo penceritaan adalah tantangan terbesar bagi film bertabur tokoh, namun Brand New Day berhasil mengeksekusinya tanpa celah. Sutradara sangat cerdas memadukan sekuens aksi yang memacu adrenalin di awal, untuk kemudian menurunkan temponya demi membangun kedalaman emosi masing-masing tokoh.
Sempat muncul keraguan saat tempo film melambat, dengan pemikiran seperti, "Man, Peter hasn’t even gotten to MJ and Ned yet," yang kemudian diikuti dengan kekhawatiran alur cerita, "How are they going to fit that in and it give it the time it deserves?". Namun, seluruh fondasi cerita yang dibangun pelan tersebut terbayar lunas dengan rentetan kejutan (plot twist) yang dieksekusi secara brilian dan memuaskan.
Momen Ikonis dan Resonansi Emosi Tertinggi
Sebuah mahakarya sinematik selalu menyisakan adegan yang melekat kuat di ingatan penontonnya. Salah satu momen yang sangat berkesan adalah interaksi hangat dan filosofis antara Peter dan Bruce Banner di wilayah universitas.
[SPOILER]
Terdapat pula adegan memukau yang dieksekusi dengan indah ketika Peter membiarkan Jean memasuki pikirannya, sehingga sosok Aunt May bisa "menjangkau" dan menenangkan wanita mutan tersebut.
Namun, puncak kejeniusan sinematografi film ini hadir saat Peter membawa M.J. berayun melintasi New York City setelah wanita itu mengatakan tidak mencintainya karena lupa ingatan. Adegan ini ditampilkan nyaris tanpa suara latar, hanya menonjolkan hiruk pikuk hembusan angin kota dan bisikan putus asa Peter saat ia mencoba mengontrol kekuatan jaring organiknya yang baru:
"Webstop." "Webstop." "Webstop."
Kontras adegan ini sangat menyayat hati: seorang pria berkekuatan dewa yang sangat jenius harus menekan egonya dan berbicara pada diri sendiri, semata-mata demi memenuhi permintaan terakhir dari wanita yang paling ia cintai.
Kecerdasan emosional dalam penulisan naskah film ini berhasil menembus layar bioskop. Konflik batin Peter yang kelelahan, amarah kebingungan M.J., penyesalan mendalam Frank, hingga momen jabat tangan canggung antara Ned dan Peter di akhir cerita diramu menjadi satu kesatuan yang sempurna.
Bagi pembaca yang menginginkan tontonan berkualitas yang memacu adrenalin sekaligus menguras air mata, film ini adalah jawaban mutlak. Silakan bagikan ulasan menarik ini ke grup komunitas pencinta sinema atau lini masa media sosial Anda agar semakin banyak orang yang mengapresiasi mahakarya visual ini!
TANYA JAWAB WARGA (FAQ)
- Berapa angka pendapatan perdana Spider-Man: Brand New Day? Film ini berhasil mencetak rekor sejarah baru dalam box office domestik Amerika Utara dengan meraup sekitar $360 juta pada akhir pekan pertamanya.
- Siapa sosok sutradara yang mengarahkan film pahlawan super ini? Proses penyutradaraan mahakarya Marvel dengan sentuhan drama psikologis ini dipercayakan kepada sineas berbakat, Destin Daniel Cretton.
- Karakter kejutan apa saja yang hadir menemani Peter Parker? Kejutan besar hadir bagi para penggemar lewat kemunculan sejumlah karakter ikonis dari semesta lain seperti Jean Grey, The Punisher, The Hulk, dan Yelena Belova.
- Bagaimana skor penilaian film ini menurut Rotten Tomatoes? Situs ulasan film populer tersebut memberikan skor agregat yang sangat memuaskan, yakni 90% dari kacamata para pakar dan 98% dari para penikmat film.