Ribuan Hektare Sawah Bekasi Mengering, Begini Nasib dan Bantuan untuk Petani!

Kemarau panjang melanda Kabupaten Bekasi. Tercatat 2.592 hektare lahan pertanian alami kekeringan. Cek upaya mitigasi dan bantuan dari Dinas Pertanian.

Editor: Senja Arunika
Tanggal: Rabu, 29 Juli 2026 - 10.16 WIB
Pemkab Bekasi Gagas Sumur Satelit untuk Atasi Kekeringan Sawah
Pemkab Bekasi Gagas Sumur Satelit untuk Atasi Kekeringan Sawah
bekasikab.go.id

Kemarau panjang kembali membawa dampak serius bagi sektor agraris dan ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Bekasi. Tercatat sebanyak 2.592 hektare lahan pertanian kini mengalami kekeringan parah sejak memasuki masa kemarau pada pertengahan tahun 2026.

Bencana krisis air ini sangat memukul para penggarap sawah di berbagai titik. Kondisi kritis ketersediaan air irigasi bahkan memaksa sebagian petani harus melakukan panen dini agar sisa hasil bumi masih bisa diselamatkan demi menghindari kerugian material yang lebih masif.

Potensi Meluasnya Area Terdampak Kemarau

Berdasarkan prakiraan iklim, ancaman kemarau diprediksi masih akan menyelimuti kawasan Bekasi hingga September 2026 mendatang. Oleh karena itu, data luasan lahan yang mengalami gagal pengairan ini diperkirakan masih bisa terus merangkak naik dalam beberapa pekan ke depan.

Untuk merespons ancaman tersebut, pihak Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi terus bergerak melakukan pemutakhiran data dan pemetaan langsung di lapangan.

"Data ini bersifat sementara dan berpotensi meluas seiring siklus musim kemarau berlangsung. Kami masih terus mendata di lapangan," kata Sub Koordinator Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Dodo Hadi Triwardoyo.

Utara Krisis Irigasi, Selatan Kehilangan Hujan

Berdasarkan pemetaan sejauh ini, wilayah terdampak kekeringan paling luas didominasi oleh area utara Kabupaten Bekasi. Titik-titik ini mencakup Kecamatan Pebayuran, Tambelang, Cabangbungin, Sukatani, dan Sukawangi yang mayoritas merupakan kawasan sawah irigasi teknis yang terdampak penurunan debit pasokan air secara drastis.

Sementara itu, jeritan serupa juga datang dari para petani di wilayah selatan seperti di Kecamatan Serang Baru, Cibarusah, dan Bojongmangu. Kawasan selatan ini dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap musim kemarau lantaran didominasi oleh areal persawahan tadah hujan yang sangat bergantung pada intensitas curah hujan alam.

Skema Asuransi dan Transisi Hortikultura Sebagai Solusi

Pemerintah daerah tidak tinggal diam melihat ancaman gagal panen yang menghantui para petani. Sebuah skema Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) tengah disiapkan dengan target perlindungan mencapai luasan 1.500 hektare guna menekan beban risiko finansial para penggarap sawah.

Di samping perlindungan finansial, Dodo juga menyarankan para petani di wilayah yang paling parah terdampak kekeringan untuk mengubah strategi tanam. Petani diimbau untuk sementara waktu beralih dari tanaman padi ke komoditas hortikultura yang secara teknis membutuhkan pasokan air jauh lebih minim.

Dinas Pertanian juga terus memacu sinergi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, dan Kementerian Pekerjaan Umum. Koordinasi lintas instansi ini berfokus pada upaya masif normalisasi saluran irigasi teknis agar distribusi sisa air bisa dioptimalkan.

"Kami berharap langkah-langkah tersebut dapat meminimalkan luas lahan yang terdampak sekaligus menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau berlangsung agar petani-petani kita tetap dapat menggarap lahan secara optimal," kata Dodo.

Bagi Warganet Bekasi, khususnya yang tergabung dalam keluarga besar kelompok tani, mari terus pantau informasi dan ikuti petunjuk mitigasi dari penyuluh pertanian setempat agar kerugian musim kemarau bisa ditekan seminimal mungkin. Silakan bagikan artikel informasi bantuan asuransi dan strategi tanam ini ke grup WhatsApp warga maupun paguyuban RT/RW di lingkungan Anda agar semakin banyak petani yang teredukasi!

LAINNYA

ARTIKEL LAINNYA