Miris! Sumur Mengering, Warga Cibarusah Terpaksa Mandi di Kali Tiap Subuh

Bencana kekeringan parah melanda wilayah Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Sumur warga mengering, memaksa mereka antre berjam-jam demi bantuan air bersih.

Editor: Senja Arunika
Tanggal: Kamis, 30 Juli 2026 - 22.06 WIB
Miris! Sumur Mengering, Warga Cibarusah Terpaksa Mandi di Kali Tiap Subuh
Miris! Sumur Mengering, Warga Cibarusah Terpaksa Mandi di Kali Tiap Subuh
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA

Bencana kekeringan dan krisis air bersih kembali melanda wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Salah satu titik terparah berada di Kampung Pamoyanan, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, di mana sumur-sumur permukiman warga telah sepenuhnya mengering sejak beberapa bulan terakhir.

Dikutip dari KOMPAS.COM pada Kamis (30/7/2026), puluhan warga tampak memadati lokasi distribusi bantuan air bersih. Sambil membawa jeriken, ember, hingga galon bekas, mereka berbaris tertib di bawah terik matahari menanti kedatangan mobil tangki pasokan air.

Kondisi yang menyulitkan ini membuat warga harus mengorbankan banyak waktu dan tenaga demi memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.

"Tadi saya mulai antre dari jam 12.30. Dapatnya cuma tujuh jerigen," ujar Kurniasih (34), warga Sirnajati.

Harapan Berfungsinya Saluran Pipa PDAM

Selama ini, warga sekitar hanya bergantung pada curah hujan sebagai sumber utama pengisi sumur. Ketika hujan tak kunjung turun dalam waktu lama, warga merasakan dampak yang sangat fatal bagi kelangsungan hidup sehari-hari.

"Emang tiap tahun kekeringan, tapi ini yang paling parah," kata Kurniasih.

Jika bantuan tidak datang, warga terpaksa berjalan jauh untuk mengambil air dari Kali Tegakadu-Leuwi Kacapi. Opsi lainnya adalah membeli air dari warga yang memiliki toren dengan harga mencapai Rp 60.000 per toren, yang tentu memberatkan ekonomi keluarga.

"Capek banget mengandalkan air bantuan. Pengennya PAM hidup, jadi kami enggak susah-susah lagi. Ekonomi juga udah susah, masa harus keluar biaya buat beli air," ucapnya.

Ironisnya, jaringan pipa air bersih dari pemerintah sebenarnya sudah terpasang di rumah-rumah kawasan tersebut. Namun, fungsi distribusi air tersebut tidak berjalan maksimal hingga hari ini.

"Sampai sekarang keluarnya paling cuma setetes dua tetes," ujar Kurniasih.

Kehadiran mobil tangki bantuan dari PDAM Tirta Bhagasasi dan BPBD Kabupaten Bekasi sedikit banyak memberikan kelegaan bagi warga setempat.

"Tapi Alhamdulillah banget sekarang dapat bantuan. Jadi enggak harus terus ngambil air ke kali atau beli," katanya.

Warga sangat berharap distribusi air ini bisa dirutinkan selama masa kemarau panjang masih berlangsung.

"Kalau bisa mah dua sampai tiga tangki dalam seminggu, biar semua warga di sini kebagian," ujarnya.

Perjuangan Siswa Mandi di Kali Demi Bersekolah

Kesulitan serupa juga dialami oleh Iin (33), yang mengaku sumur di rumahnya sudah tidak lagi meneteskan air sejak empat bulan lalu.

"Tadi udah antre dari jam 12.00 WIB. Soalnya takut enggak kebagian airnya. Ini juga baru pertama kali dapat bantuan. Udah empat bulan kondisinya begini terus," kata Iin.

Untuk menyiasati krisis, ia memisahkan penggunaan air secara ketat. Air galon isi ulang dibeli khusus untuk minum, sementara mencuci pakaian harus dijadwal dan dilakukan di kali.

"Kalau minum mah beli air galon. Ini juga nyuci baju kadang dua hari sekali. Soalnya jauh, dan bajunya dikumpulin dulu biar enggak capek bolak-balik," katanya.

Krisis air ini sangat berdampak pada rutinitas harian anak-anaknya yang berstatus pelajar. Ketiadaan air di rumah memaksa mereka mandi di kali setiap pagi.

"Anak jadi sering telat sekolah. Soalnya kan mereka juga ikut mandi di kali, di rumah sama sekali enggak ada air. Biasanya subuh sudah berangkat ke kali. Pulangnya sekitar jam 07.30, itu juga kalau enggak ngantri," ujar Iin.

Antrean di sungai kerap kali terjadi karena warga dari wilayah perbatasan Kabupaten Bogor juga ikut turun ke sumber air yang sama. Hal ini turut memicu kekhawatiran terkait kebersihan dan keselamatan anak-anak.

"Sebenarnya takut mandi di kali. Tapi mau gimana lagi, kalau enggak ke kali ya enggak mandi," tuturnya.

Taktik Hemat Air dan Penjelasan Otoritas Setempat

Bagi ibu rumah tangga lainnya, Odeh (36), mengelola jatah air bantuan adalah tugas yang menantang. Ia merasa bersyukur beban rutinitasnya sedikit teringankan hari ini.

"Senang banget akhirnya bisa dapat bantuan air bersih, soalnya di rumah saya udah enggak ada air bersih. Kan kalau ibu-ibu butuh banyak ya. Tadi udah lama juga nungguin antrean," kata Odeh.

Oleh karena jatah air sangat terbatas, ia harus cermat dalam membagi alokasi penggunaannya agar persediaan tidak habis sebelum bantuan tahap selanjutnya tiba.

"Air bantuan ini dipakai buat nyuci beras, piring, sama mandi. Kalau nyuci baju mah biasanya ke kali, soalnya sayang kalau air bantuan dipakai buat nyuci baju. Takut nanti lama datang bantuan lagi," ucap Odeh.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Bekasi hingga akhir Juli 2026, bencana kekeringan telah meluas ke 23 desa di sembilan kecamatan, berdampak pada 10.254 kepala keluarga. Menyikapi hal ini, Kepala Cabang PDAM Tirta Bhagasasi Cibarusah, Supriyadi, menjelaskan bahwa pihaknya beroperasi penuh mengirimkan 15 rit pengiriman air setiap hari.

Terkait kondisi geografis Cibarusah yang rentan, Supriyadi memberikan penjelasan teknis mengenai sulitnya menemukan sumber air bersih yang layak di wilayah tersebut.

"Daya serap tanahnya sudah tidak memadai. Bahkan kalau masih ada sumber air, kualitasnya sering sudah tidak layak dikonsumsi. Memang sumber air di sana sangat minim," kata Supriyadi.

Pemusatan titik distribusi sengaja dilakukan di ruang terbuka karena kondisi jalan berbukit menyulitkan manuver armada tangki besar untuk menjangkau setiap rumah.

"Cara ini lebih efektif, efisien, dan distribusinya juga lebih tertata," ujarnya.

Bagi Warganet Bekasi yang tinggal di wilayah terdampak maupun wilayah yang masih melimpah airnya, mari kita tingkatkan empati dengan mulai menghemat penggunaan air bersih sehari-hari. Silakan bagikan informasi mengenai jadwal dan lokasi titik distribusi bantuan air ini ke grup WhatsApp warga dan RT/RW setempat, agar para tetangga kita yang membutuhkan tidak tertinggal informasi penyaluran armada tangki!

LAINNYA

ARTIKEL LAINNYA