Tinggalkan Cara Lama, Petani Bojongmangu Bekasi Siap Panen Padi Melimpah dengan Sistem Baru Ini

Pemerintah Kabupaten Bekasi mulai menerapkan sistem Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) di Bojongmangu untuk tingkatkan hasil panen petani lokal.

Editor: Senja Arunika
Tanggal: Senin, 10 Agustus 2026 - 15.28 WIB
Tinggalkan Cara Lama, Petani Bojongmangu Bekasi Siap Panen Padi Melimpah dengan Sistem Baru Ini
Tinggalkan Cara Lama, Petani Bojongmangu Bekasi Siap Panen Padi Melimpah dengan Sistem Baru Ini
bekasikab.go.id

Warga Bekasi khususnya para petani lokal kini mulai menyambut era baru dalam budidaya padi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi resmi memperkenalkan sistem Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) sebagai langkah konkret beralih dari pola tanam padi konvensional. Inovasi ini mengandalkan skema tanam benih langsung atau yang di kalangan petani akrab disebut metode Tabela.

Uji Coba Lahan PM-AAS di Bojongmangu Bekasi

Program modernisasi lahan ini langsung dipraktikkan di Kecamatan Bojongmangu. Lahan uji coba disiapkan secara khusus di area seluas 4.000 meter persegi yang dikelola oleh Kelompok Tani Warudoyong I di wilayah Desa Sukabungah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid, menegaskan bahwa program ini adalah tahapan penting bagi kesejahteraan petani. "Untuk uji coba sekaligus percontohan, sistem ini mulai diterapkan pada lahan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu sebagai tahap awal modernisasi budidaya padi," kata Abdillah pada hari Minggu.

Menurutnya, penerapan PM-AAS menuntut petani untuk bekerja secara lebih cermat dan terukur. Langkah ini mencakup pengolahan lahan yang presisi, pengecekan pH tanah, pemupukan sesuai anjuran dosis, dan pengendalian gulma. "Pada tahap awal, program ini menggunakan varietas padi Inpari 33 berkisar 15 kilogram benih dengan target menghasilkan sedikitnya empat ton gabah saat panen," katanya.

Solusi Teknis Perawatan Tanah Sawah

Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu, Ubuh Buhori, menjelaskan bahwa tingkat keasaman tanah sawah harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum ditanami. Hasil pengujian menunjukkan lahan percontohan tersebut memiliki pH tanah 5,5 sehingga membutuhkan perlakuan khusus menggunakan pupuk kapur.

"Untuk lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi, diaplikasikan sekitar 500 kilogram dolomit dalam dua tahap yakni saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum tanam. Selain itu, sehari sebelum penanaman dilakukan penyemprotan herbisida untuk mengendalikan gulma," katanya.

Sistem pertanian ini juga mengubah total kebiasaan manajemen pengairan bagi petani di Kabupaten Bekasi. Setelah ditanam, lahan tidak boleh langsung dibanjiri air selama lima hari agar benih terhindar dari pembusukan. "Selanjutnya dilakukan pemantauan pertumbuhan tanaman, kemudian pemupukan pertama diberikan pada umur sekitar 10 hari sesuai rekomendasi teknis," katanya.

Ubuh optimis target panen melalui teknologi ini bisa melonjak hingga 10 ton per hektare. Angka ini jauh di atas rata-rata hasil panen konvensional saat ini yang hanya berkisar di angka lima ton per hektare.

Demplot Sebagai Sarana Belajar Petani Lokal

Lahan uji coba di Bojongmangu sengaja dirancang sebagai demonstration plot (demplot) edukasi. Tujuannya agar warga petani bisa membandingkan secara langsung efektivitas teknologi baru ini dengan cara lama. "Harapannya setiap desa nanti memiliki minimal dua hektare lahan demonstrasi sehingga semakin banyak petani yang terdorong meninggalkan pola konvensional dan beralih ke sistem pertanian modern," ucapnya.

Inovasi teknologi bertani dari Pemkab Bekasi ini disambut sangat antusias. Ketua Kelompok Tani Warudoyong I, Yusup Saepuloh, menilai langkah ini sangat membantu para petani beralih dari kebiasaan lama. "Kami berharap hasil uji coba ini bisa menjadi acuan sebelum diterapkan lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani. Melalui penerapan teknologi, semoga hasil panen meningkat signifikan," kata dia.

Bagi Warga Bekasi yang memiliki keluarga atau kerabat berprofesi sebagai petani, informasi seputar teknologi modernisasi sawah ini tentu sangat berguna. Silakan bagikan artikel ini secara langsung ke WhatsApp atau ke berbagai grup media sosial agar semakin banyak pahlawan pangan lokal kita yang mengetahui solusi tanam benih langsung ini.


TANYA JAWAB WARGA (FAQ)

  1. Apa itu sistem PM-AAS di Kabupaten Bekasi? Sistem Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) adalah inovasi teknologi dari Pemkab Bekasi yang menggunakan metode tanam benih langsung (Tabela) guna meningkatkan efisiensi dan hasil panen petani.
  2. Di mana lokasi uji coba sistem pertanian modern ini? Uji coba perdana dilakukan di lahan sawah seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I di Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu.
  3. Apa target hasil panen dari inovasi ini? Sistem ini ditargetkan mampu mendongkrak produktivitas panen hingga 10 ton per hektare, meningkat drastis dari rata-rata sebelumnya yang hanya lima ton per hektare.
  4. Bagaimana penanganan lahan setelah benih ditanam? Pada metode PM-AAS, sawah tidak boleh digenangi air selama lima hari pertama usai penanaman untuk mencegah benih membusuk dan terhindar dari penyakit.
LAINNYA

ARTIKEL LAINNYA