Cuma Butuh 5 Detik! Siswa SMP Ini Bikin Alat Canggih Detektor MBG Basi

Dua siswa SMPN 1 Turi Sleman berinovasi membuat alat pendeteksi makanan basi. Hanya butuh waktu 5 detik untuk mendeteksi keamanan makanan.

Editor: Senja Arunika
Tanggal: Minggu, 26 Juli 2026 - 15.20 WIB
Keren Banget! Dua Siswa SMP Ini Bikin Alat Anti Keracunan Makanan, Modalnya Cuma Rp500 Ribu
Keren Banget! Dua Siswa SMP Ini Bikin Alat Anti Keracunan Makanan, Modalnya Cuma Rp500 Ribu
Adji G Rinepta/detikJogja

Kreativitas tanpa batas kembali ditunjukkan oleh pelajar Indonesia. Berawal dari keprihatinan melihat maraknya pemberitaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), dua siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, sukses menciptakan inovasi solutif yang patut diacungi jempol.

Pradipta Widhi Nugroho dan Abyan Syahlefi, duo pelajar yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) ini, merancang sebuah alat pendeteksi kesegaran makanan. Alat ini diklaim mampu memberikan hasil uji kelayakan konsumsi secara cepat dan akurat.

Berawal dari Riset hingga Terciptanya Detektor Canggih

Sebagaimana dikutip dari DetikJogja (26/7), ide cemerlang ini bermula dari hasil penelusuran mereka di dunia maya mengenai rentannya program makan gratis terhadap risiko keracunan.

"Awalnya kita riset di internet, kita lihat beberapa (berita) ada keracunan MBG itu. Habis itu saya diskusi sama Pradipta, gimana kalau kita membuat alat yang bisa mendeteksi makanan basi," jelas Aby saat ditemui di SMPN 1 Turi, Sleman, Kamis (23/7).

Proses perakitan dan pemrograman alat ini memakan waktu kurang lebih tiga bulan, dengan melewati berbagai fase uji coba dan kendala teknis.

"Untuk proses merakitnya lumayan lama, 2 mingguan, karena memogramnya agak sulit ya. Tiga bulan lebih (proses dari riset sampai jadi). Kalau rakit lumayan gampang, memogramnya yang sulit. Awal puasa itu buatnya, Maret itu jadi, terus sempat eror. Jadi seperti ini itu Mei," papar Aby.

Menariknya, komponen elektronik yang digunakan rupanya sangat mudah ditemukan di pasaran dengan harga yang terjangkau.

"Nggak sulit (mencari komponen), di Jogja ada, di online ada. Rp 500 ribu (total biaya pembuatan detektor) semuanya ini," ungkap Aby.

Siswa SMPN 1 Turi memamerkan inovasi alat detektor makanan basi untuk mencegah keracunan
Siswa SMPN 1 Turi memamerkan inovasi alat detektor makanan basi untuk mencegah keracunan (Foto: Adji G Rinepta/detikJogja)

Cara Kerja Detektor: Analisis Suhu hingga Pestisida

Bentuk fisik Detektor MBG ini cukup sederhana, yakni memanfaatkan wadah food container berkapasitas 1 liter. Seluruh komponen sensor elektronik dirangkai dan ditanamkan pada bagian tutup kotak makan tersebut.

Cara kerjanya pun sangat praktis. Sampel makanan cukup dimasukkan ke dalam wadah tertutup. Dalam hitungan 5 detik, layar indikator kecil akan menampilkan status kelayakan makanan tersebut.

"Jadi untuk alat ini kita pakai 3 sensor, pertama untuk mendeteksi kelembapan mengecek kadar alkohol, lalu untuk mengecek kualitas udara makanan tersebut, lalu untuk mengukur suhu makanan," papar Aby.

Alat ini tidak hanya berdiri sendiri, namun juga bisa diintegrasikan dengan ponsel pintar melalui jaringan nirkabel.

"Lalu ada (satu tambahan) untuk mendeteksi kadar pestisida, di dalam buah biasanya. Yang ini (menunjuk salah satu bagian) ini otaknya dari alat ini, jadi kita memrogramnya lewat sini. Ngeceknya lewat HP, itu pakai (koneksi) WiFi, jadi semua HP bisa," imbuhnya.

Akurasi Tinggi dan Melaju di Olimpiade Nasional

Berdasarkan pengujian berulang kali, alat ini diklaim memiliki tingkat kepekaan yang sangat meyakinkan dalam mendeteksi perubahan kondisi makanan.

"Ini prosesnya (sekitar) 5 detik-an, kalau (makanan) basi seperti ini hasilnya (menunjuk layar kecil di detektor bertuliskan tidak aman). Kita pernah mencoba makanan itu lebih dari 9 kali. Bisa 100% (tingkat akurasinya)," ujarnya.

Guru pembimbing KIR SMPN 1 Turi, Anik Marwati, membenarkan bahwa alat ini telah diuji secara rutin terhadap pasokan MBG yang diterima pihak sekolah.

"Jadi ini MBG kan datang, terus diujicoba, MBG kan idealnya (maksimal) 2 jam setelah datang harus sudah dimakan. Nah itu diteliti sekitar 1 jam," terang Anik.

"Dan itu berkali-kali diuji (MBG), dan itu setiap jenis makanan 3 kali uji. Nasi dulu, kemudian sayurnya, seterusnya. (Sekarang) Ya masih dikembangkan, (sesekali) dipakai juga (untuk mendeteksi MBG), alhamdulillah aman," sambungnya.

Kini, karya membanggakan ini tengah bersaing di tingkat nasional pada ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

"Ini lolos tahap pertama OPSI tingkat Nasional, (tahap 1) kan lolos proposal dulu, kemudian dibikin, kemudian buat laporannya, hasil penelitiannya, sampai kesimpulan. Tahap 2 (presentasi) melaporkan itu kan, nanti baru ke Jakarta," pungkas Anik.

Inovasi dari kedua siswa ini membuktikan bahwa anak muda Indonesia mampu memberikan solusi nyata terhadap permasalahan yang ada di masyarakat. Mari dukung terus kreativitas pelajar kita, dan jangan lupa bagikan informasi inspiratif ini ke grup WhatsApp warga agar semakin banyak yang bangga dengan potensi generasi penerus bangsa!

LAINNYA

ARTIKEL LAINNYA