Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Kabupaten Bekasi menunjukkan komitmen serius dalam memajukan sektor pendidikan. Tercatat sebanyak 93 Sekolah Dasar (SD) di wilayah tersebut kini telah resmi menjadi bagian dari Program Perpustakaan Ramah Anak.
Program berskala nasional yang mendapat dukungan bantuan buku bacaan dari Kementerian Pendidikan ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini. Pendampingan berkelanjutan terus dilakukan agar anak-anak mendapatkan ruang belajar yang menyenangkan.
Ekosistem Literasi yang Interaktif dan Kreatif
Keberhasilan penerapan program di puluhan sekolah ini tidak lepas dari peran aktif berbagai elemen penggerak. Muhaidin Darma, Pendamping Perpustakaan Ramah Anak Kabupaten Bekasi sekaligus Sekretaris Forum Taman Bacaan Masyarakat Kabupaten Bekasi, menjelaskan bahwa inisiatif ini menargetkan sekitar 1.000 SD di seluruh Indonesia.
"Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak memperoleh akses terhadap ruang belajar yang nyaman dan menyenangkan. Alhamdulillah, di Kabupaten Bekasi sudah ada 93 SD yang menjadi bagian dari Program Perpustakaan Ramah Anak," ujar Muhaidin Darma.
Lebih dari sekadar menyusun deretan buku, perpustakaan ini membangun ekosistem literasi yang hidup. Berbagai metode menarik seperti membaca nyaring, mendongeng, hingga aktivitas seni diterapkan agar minat baca siswa semakin terasah dengan baik.
"Perpustakaan ramah anak bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi ruang yang membuat anak betah datang, membaca, belajar, dan berkreasi. Karena itu, suasana ruang, mural edukatif, rak buku yang mudah dijangkau, hingga aktivitas kreatif menjadi bagian penting dalam program ini," katanya.
Kebutuhan Pembaruan Koleksi dan Peningkatan Fasilitas
Di balik tingginya antusiasme siswa di lapangan, penerapan program literasi ini masih menemui sejumlah tantangan teknis. Banyak sekolah yang melaporkan kebutuhan mendesak akan ruang perpustakaan yang lebih representatif serta penambahan fasilitas seperti rak dan lemari penyimpanan.
"Buku-buku yang ada cepat selesai dibaca oleh anak-anak. Karena itu, koleksi harus terus diperbarui, begitu juga sarana perpustakaan agar semakin nyaman dan menarik," ungkapnya.
Untuk mendukung gerakan ini di luar jam sekolah, Kabupaten Bekasi juga mengandalkan pergerakan sekitar 100 Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Relawan TBM secara swadaya rutin mengadakan kegiatan membaca keliling dan permainan edukatif di tengah-tengah lingkungan warga.
Sebagai langkah perbaikan ke depan, Muhaidin mendorong adanya sinergi yang lebih solid antara pihak pemerintah dan sektor swasta di kawasan industri tersebut.
"Kami berharap pemerintah daerah bersama dunia usaha dapat memperkuat kolaborasi, baik melalui pembangunan ruang perpustakaan, penyediaan peralatan, penambahan koleksi buku, maupun dukungan terhadap TBM agar gerakan literasi ramah anak semakin berkembang di Kabupaten Bekasi," pungkasnya.
Bagi Warganet Bekasi yang berstatus sebagai orang tua atau wali murid, mari kita bersama-sama mengawal fasilitas pendidikan di wilayah kita agar anak-anak mendapatkan hak belajar yang terbaik. Silakan bagikan informasi kemajuan pendidikan ini ke grup WhatsApp komite sekolah atau paguyuban RT/RW agar lebih banyak warga yang tergerak untuk menyumbangkan buku bacaan layak anak ke perpustakaan atau TBM terdekat!