Ubah Sampah Jadi Cuan, Ratusan Bank Sampah di Bekasi Sukses Bikin Warga Mandiri!

Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui DLH sukses membangun 556 bank sampah. Program ini tak hanya mengurangi limbah ke TPA Burangkeng tapi juga menambah cuan warga.

Editor: Senja Arunika
Tanggal: Jumat, 24 Juli 2026 - 15.56 WIB
Ubah Sampah Jadi Cuan, Ratusan Bank Sampah di Bekasi Sukses Bikin Warga Mandiri!
Ubah Sampah Jadi Cuan, Ratusan Bank Sampah di Bekasi Sukses Bikin Warga Mandiri!
bekasikab.go.id

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi terus melakukan terobosan serius dalam menangani krisis limbah rumah tangga. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), program Bank Sampah berhasil menyulap limbah menjadi cuan yang berdampak langsung pada peningkatan perekonomian masyarakat sekitar.

Cetak Rekor Terbanyak Skala Nasional

Hingga bulan April 2026, jumlah bank sampah di Kabupaten Bekasi telah menembus angka 556 unit. Capaian ini secara resmi menjadikan wilayah kawasan industri tersebut sebagai daerah dengan fasilitas pengolahan limbah mandiri terbanyak di seluruh Indonesia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, Syafri Doni Sirait, memaparkan bahwa pengembangan fasilitas ini ke depannya masih memiliki potensi yang sangat luas.

"Target kami satu RW satu bank sampah. Saat ini baru 556 unit, sementara jumlah RW di Kabupaten Bekasi sekitar 3.000. Artinya masih ada ruang besar untuk terus dikembangkan," ungkap Syafri Doni saat berbincang dalam Podcast Rumah Bekasi di Kantor DLH Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat, Rabu (23/7/2026).

Edukasi Warga Menjadi Kunci Keberhasilan

Syafri menilai pesatnya pertumbuhan fasilitas ini bukan semata-mata karena kucuran dana dari anggaran pemerintah. Kesuksesan ini berakar kuat pada tumbuhnya kesadaran warga akan nilai ekonomi dari barang-barang bekas.

Sebelum berbagai fasilitas tersebut didirikan, pihak DLH sangat gencar memberikan pelatihan khusus kepada para pengurus RW. Mereka dibekali wawasan agar terampil mengedukasi warga terkait cara memilah limbah dari rumah tangganya masing-masing.

"Dulu orang menganggap mengumpulkan sampah itu pekerjaan yang tidak berguna. Setelah dijalankan satu hingga dua tahun, ternyata hasilnya bisa menjadi tambahan penghasilan. Di situlah pola pikir masyarakat mulai berubah," ujarnya.

Minyak Jelantah dan Plastik Jadi Pundi Rupiah

Saat ini, berbagai jenis limbah yang dipilah secara mandiri oleh masyarakat sudah memiliki pasar yang sangat jelas. Barang bekas seperti plastik, kertas, kaca, hingga minyak jelantah kini bisa langsung ditukar menjadi uang tunai.

Minyak bekas pakai yang biasanya dibuang dan mencemari saluran air kini laku dijual dengan harga kisaran Rp6.000 per kilogram. Hal ini otomatis mampu menekan angka pencemaran lingkungan lokal sekaligus menambah tebal dompet warga.

Untuk memastikan serapan yang maksimal, pihak DLH telah secara aktif menggandeng berbagai perusahaan daur ulang yang beroperasi di wilayah Kabupaten Bekasi.

Sinergi Pembangunan Bank Sampah Induk

Ke depannya, pihak pemerintah daerah memiliki visi besar untuk membangun Bank Sampah Induk di setiap wilayah desa. Fasilitas terpadu ini nantinya akan berfungsi ganda sebagai Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).

Keberadaan sentra induk ini diyakini akan semakin mendongkrak nilai jual limbah. Hal tersebut dikarenakan material yang terkumpul akan melalui proses pencacahan terlebih dahulu sebelum dikirim secara massal ke pabrik daur ulang.

"Kami sedang mengupayakan agar pembangunan Bank Sampah Induk tidak sepenuhnya menggunakan APBD, tetapi melalui kolaborasi dengan pemerintah desa, BUMDes, dan sektor swasta," katanya.

Melihat beragam manfaat ekonomi dan pelestarian lingkungan yang ditawarkan, sudah saatnya kita semua turut berpartisipasi aktif memilah limbah dari rumah agar beban volume TPA Burangkeng dapat terus berkurang. Mari bantu sukseskan kemandirian lingkungan dengan menyebarkan informasi positif ini ke grup WhatsApp warga RT/RW Anda, dan sampaikan pendapat atau pengalaman Anda mengenai program ini di kolom komentar!


LAINNYA

ARTIKEL LAINNYA