Renggut Nyawa! Kapan Perlintasan Maut Bulak Kapal Bekasi Punya Palang Otomatis dan Jalan Mulus?

Perlintasan kereta api Bulak Kapal, Kota Bekasi, sangat rawan kecelakaan akibat aspal rusak dan ketiadaan palang pintu otomatis. Warga desak pemerintah segera bertindak.

Editor: Senja Arunika
Tanggal: Selasa, 28 Juli 2026 - 00.16 WIB
Renggut Nyawa! Kapan Perlintasan Maut Bulak Kapal Bekasi Punya Palang Otomatis dan Jalan Mulus?
Renggut Nyawa! Kapan Perlintasan Maut Bulak Kapal Bekasi Punya Palang Otomatis dan Jalan Mulus?
bekasikota.go.id

Kondisi infrastruktur keselamatan lalu lintas di Perlintasan Sebidang Bulak Kapal, Kota Bekasi, kini tengah menjadi sorotan tajam publik. Pasca-insiden kecelakaan maut yang menewaskan seorang pengemudi mobil pikap Mitsubishi Triton akibat tertabrak KA Gajayana pada Senin (27/7/2026) dini hari, warga dan relawan penjaga perlintasan mendesak pemerintah untuk segera turun tangan.

Dua persoalan utama yang menjadi keluhan kronis di lokasi tersebut adalah rusaknya permukaan aspal di sekitar rel dan ketiadaan sistem palang pintu otomatis. Kerusakan jalan ini kerap membuat kendaraan berat atau mobil terhambat lajunya tepat di atas rel.

Ancaman Nyata dari Jalan Rusak dan Minimnya Fasilitas

Penjaga perlintasan swadaya, Alfian (21), mengungkapkan bahwa kondisi fisik jalan menjadi faktor penentu keselamatan yang sangat mendesak untuk segera diperbaiki. Kendaraan yang melintas sering kali harus berjalan sangat pelan atau bahkan berisiko tersangkut.

"Yang paling dibutuhkan di pelintasan ini adalah palang pintu otomatis serta perbaikan kondisi jalan. Permukaan jalannya sering buat kendaraan, terutama mobil, tersangkut. Jadinya mendem. Ini kan berbahaya saat melintas," kata penjaga pelintasan, Alfian (21), saat ditemui di lokasi, Senin (27/7/2026).

Selain masalah infrastruktur, Alfian juga menyoroti tabiat buruk sebagian pengendara. Di tengah jam sibuk lalu lintas, masih banyak pengendara yang tidak disiplin dan mengabaikan peringatan dari petugas sukarela di lapangan.

"Banyak pengendara yang susah diatur. Sudah diarahkan agar berada di sisi kiri, tetapi tetap mengambil jalur kanan. Kadang juga berhenti di tengah rel," ujarnya.

Relawan Swadaya Bertugas Tanpa Honor Resmi

Senada dengan Alfian, penjaga perlintasan lainnya yang telah bertugas selama lima tahun, Luki (39), juga mengeluhkan aspal yang terkelupas dan membahayakan pengendara, terutama saat turun hujan.

"Kami cuma minta ini aspalnya diperbaiki. Kasihan kan masyarakat. Apalagi kalau hujan, jadi licin jalannya. Sudah beberapa kali mengajukan permohonan, tapi belum ada jawaban dan tindakan," kata Luki.

Luki juga menyayangkan sikap pengendara yang kerap meremehkan jarak dan kecepatan kereta api yang sedang melaju ke arah mereka.

"Mereka juga sering menganggap kereta masih jauh, padahal diberhentiin juga buat keselamatan sendiri," ujarnya.

Meskipun setiap hari mempertaruhkan nyawa demi menjaga keselamatan pengguna jalan, Luki mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa para relawan tidak pernah menerima honor dari pihak berwenang.

"Selama ini kami bertugas secara sukarela," katanya. "Yang membuat saya tetap bertahan adalah menjalankan amanah untuk membantu menjaga keselamatan masyarakat," ujar Luki menambahkan alasannya bertahan.

Warga Harapkan Solusi Jangka Panjang

Merespons kondisi jalan dan minimnya palang otomatis, warga pengguna jalan menuntut adanya perbaikan sistemik, bukan sekadar solusi sementara. Dedi (35), seorang pengendara motor rutin, menyarankan pembangunan infrastruktur yang memisahkan jalur kendaraan dan kereta.

"Kalau memungkinkan, sebaiknya dibuat underpass agar kendaraan tidak perlu lagi menunggu kereta melintas karena sudah memiliki jalur sendiri," kata Dedi.

Dedi juga memperingatkan agar masyarakat dan pemerintah tidak baru sibuk mencari kambing hitam setelah jatuhnya korban jiwa di perlintasan maut tersebut.

"Kalau sampai terjadi kecelakaan, nanti saling menyalahkan. Padahal keretanya sudah dekat," ujarnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan warga lainnya, Hani (24), yang mengaku ngeri melihat pengendara nekat yang sering menerobos peringatan relawan penjaga.

"Jangan sampai saling menyalahkan kalau udah terjadi kecelakaan," katanya. "Di sini kan juga sering macet, ya. Jadi harus ada solusi juga. Mungkin bisa dibangun underpass. Soalnya emang warganya kadang kurang tertib," ujar Hani.

Terkait desakan pemasangan palang otomatis, pihak PT KAI Daop 1 Jakarta sebelumnya telah menyatakan bahwa kewenangan pengadaan tersebut berada di tangan Pemerintah Kota Bekasi. Namun, hingga saat ini, Dinas Perhubungan Kota Bekasi belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana perbaikan di kawasan padat lalu lintas tersebut.

Bagi Warganet Bekasi yang setiap hari harus melintasi kawasan Bulak Kapal, mari tingkatkan kewaspadaan dan selalu patuhi arahan dari para relawan penjaga rel. Nyawa jauh lebih berharga daripada beberapa menit waktu Anda. Bagikan artikel ini ke grup WhatsApp warga dan keluarga agar informasi bahaya di perlintasan ini semakin disadari bersama!

LAINNYA

ARTIKEL LAINNYA